Puluhan Pakar Tsunami Dunia Ngumpul di Bali

Puluhan Pakar Tsunami Dunia Ngumpul di Bali

BADUNG, NusaBali
Kamis, 13 November 2008

Gara-gara travel warning yang dikeluarkan Australia pasca eksekusi mati Amrozi cs, sejumlah pakar tsunami asal Australia urung datang ke konferensi tsunami internasional yang digelar di Nusa Dua. Padahal, puluhan pakar tsunami dari 12 negara lainnya yang bertemu di Bali ini tengah membahas soal penting tentang penanganan dan antisipasi bencana tsunami.

“Sebelum konferensi dimulai, Australia tercatat sebagai negara yang paling banyak mendaftarkan paper (tulisan) ilmiah tentang tsunami di konfrensi ini, ada sekitar 42 paper. Entah karena khawatir atau bagaimana, mereka (pakar tsunami Australia) mendadak membatalkan kehadirannya,” kata Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman, saat jumpa pers Konfrensi Internasional Tentang Peringatan Dini Tsunami atau Internastional Confrence on Tsunami Warning, Rabu (12/11) Konferensi intenasional ini diikuti pakar tsunami dari 12 negara dan berlangsung selama 2 hari di Nusa Dua. Selain tuan rumah Indonesia, pertemuan ini antara lain dihadiri oleh negara India, Srilanka, Jepang, Swedia, Jerman dan beberapa negara asing lainnya. Seratusan partisipan berasal dari 12 negara ini mengikuti ICTW yang berlangsung 11-14 November, dengan tema "Menuju Komunitas Pesisir Pantai yang Lebih Aman". "Kita harus belajar dari kejadian-kejadian tsunami di dunia. Namun walau banyak belajar, manusia seringkali tidak belajar secara psikologis. Padahal kesadaran di masyarakatlah kunci penting saat terjadi bencana itu," kata Kusmayanto.

Salah satu masalah menurutnya adalah masih sulit membudayakan peringatan dini tsunami di masyarakat. Padahal kesadaran dan pendidikan publik mengenai tsunami menjadi kunci dalam menekan korban jiwa bila terjadi tsunami. "Jauh lebih sulit membudayakan sistem peringatan dini tsunami di masyarakat dibanding membangun sistem teknologi peringatan dini tsunami. Padahal masyarakatlah kunci pentingnya," ucapnya.

Misalnya tindakan vandalisme di masyarakat yang dengan sengaja mencuri atau merusak alat-alat sistem peringatan dini yang terpasang di darat maupun di lepas pantai. "Kita mencatat terdapat empat 'buoy' (pelampung) hilang, dua dapat diketemukan, dua lagi belum terlacak," katanya.

Padahal "buoy" adalah alat penting yang berada di laut yang berfungsi mendeteksi terjadinya tsunami. Selain di laut, papan petunjuk arah aman apabila terjadi tsunami di jalan-jalan menuju daerah yang lebih tinggi pun sering kali dirusak atau hilang. "Apabila hari ini kita memasang 20 papan petunjuk, mungkin besok sudah tidak berjumlah sebanyak itu lagi," kata Kusmayanto.

Menurut dia, pemerintah telah mengeluarkan dana hingga lebih dari satu triliun rupiah selama empat tahun untuk membangun sistem teknologi peringatan dini tsunami di Indonesia. Namun sistem itu tidak akan efektif tanpa pendidikan dan kesadaran di masyarakat terhadap pentingnya memahami peringatan dini tsunami. Sementara mengenai adanya keluhan mengenai alat Tsunami Early Warning System (TEWS) di enam lokasi di Bali yang tingkat keras suara sirenenya tak sesuai dengan deskripsi, menurutnya adalah karena ada permintaan dari warga. “Agar tak mengganggu aktivitas pariwisata. Sudah dikecilkan bahkan sampai speakernya dibalut agar tak terlalu keras,”paparnya.

http://www.nusabali.com/opendoc.php?page=2&id=21325&date=2008-11-12%2015...

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Komentar Terakhir